Diam itu Emas…?
|
… ada orang yang nafsunya untuk berbicara melebihi selera makannya…. |
Di sela kecaman kepada Pemerintah Amerika Serikat yang dinilai sangat mendukung Israel. Terbetik suatu berita lain yang mungkin menarik disimak. Presiden terpilih Barack Obama akhirnya mau berkomentar mengenai penyerangan Israel ke Gaza yang menewaskan ratusan rakyat Palestina. Presiden yang masih menyandang sebutan President elect atau presiden terpilih menyatakan sangat prihatin mengenai jatuhnya korban jiwa di kalangan rakyat Palestina. Namun mengenai agresi dan kebrutalan Israel, presiden ke 44 negara besar itu kembali bilang, hanya ada satu pemerintahan Amerika Serikat. Artinya dia menolak berkomentar lebih lanjut, karena masih belum resmi menjadi Presiden Amerika Serikat hingga saat pengucapan sumpahnya dua pecan mendatang. Mengenai sikap diam Obama itu, orang mungkin bisa berkomentar macam macam. Salah satu di antaranya barangkali pendapat bahwa ia menerapkan peribahasa Diam Itu Emas. Silence is golden. Atau mungkin ia sedang melakukan gerakan tutup mulut. OK.Kita kesampingkan apa yang dilakukan Obama. Kita coba merefleksi pada kondisi kita. Peribahasa Diam Itu Emas, dalam realitas sosial kita, jangan jangan sering tidak berlaku. Menanggapi suatu kasus, sering kita jumpai adanya perang wacana. Ada kesan, siapa yang bicara paling tajam dank eras menyangkut peristiwa atau kondisi tertentu, adalah orang yang reformis, demokratis dan berani. Di radio dan televise dalam acara diskusi, debat dan interaktif sering kita mendengar narasumber bicara dengan sangat lantang, sarkastis dan sinis. Dan orang orang seperti itu yang kemudian mendapat predikat kritis, sementara sebagian lainnya yang selalu menahan lisan untuk berbicara dengan jelas namun bersahaja, bisa saja dikenali sebagai kurang berani. Dalam hal berbicara itu, ada sindiran bahwa memang ada orang orang yang memiliki nafsu berbicara, melebihi selera makannya. Jangan jangan, saya,anda atau yang lainnya ada yang sering lupa bahwa agama menuntun kita untuk mengendalikan pembicaraan. Quraisy Shihab pernah mengingatkan, jangankan berbicara dalam bentuk menguraikan pendapat, berbicara dalam bentuk bertanya sekalipun diingatkan agar tidak sembarangan. Di dalam Al Qur’an tuntunan mengenai berbicara dengan baik itu antaralain dapat dibaca pada Surat Lukman. Dalam salah satu nasehat kepada anaknya, Lukman si ahli hikmah itu mengingatkan agar manusia senantiasa melembutkan suaranya sebab seburuk-buruk suara adalah suara keledai. Demikian sampai berjumpa. Saya budi angkasa,[i]
Filed under: Tak Berkategori
DIAM ITU EMAS????
Emang kadang diam itu adalah emas, tetapi terkadang diam juga membuat bingung sehingga tentang diam nya sesorang menimbulkan pertanyaan apa, siapa, mengapa orang itu.
Dalam hal ini mungkin baik juga untuk merenungkan nasehat mentor marketing saya yg pernah berujar bahwa ” Bicara Adalah Perak, Diam adalah emas tetapi yang lebih berharga adalah Berlian yaitu “tahu kapan harus berbicara dan mengerti saatnya harus diam”.
Bravo, salam
Well, menarik juga pendapat pak Khooir ini. Ada yang nambah ? Yang pasti kita memang jadi bingung jika “istri kita” melakukan aksi diaaaam….