DIsiarkan Selasa 13 Januari 2009, 16.30 WIB, Pro 3 Jakarta 16.30 WIB.
Di musim hujan dan angin barat yang menyebabkan tingginya gelombang laut, musibah tidak hanya terjadi di laut tetapi juga di darat. Ombak yang tinggi telah menenggelamkan Kapal Motor Teratai Prima di perairan Majene dan Polewali Sulawesi Barat. Hujan lebatpun telah menyebabkan banjir dan tanah longsor. Namun bencana tidak hanya di laut dan darat melainkan juga di udara saat sebuah pesawat udara jatuh atau pecah di udara. Musibah dan bencana dapat terjadi di mana mana dan kapanpun juga. Tetapi benarkah semua musibah dan bencana senantiasa datang tanpa dapat diduga sebelumnya sehingga dapat dicegah sebelumnya ? Jawabannya bisa beragam dan menimbulkan perdebatan. Di laut sebuah bencana mungkin bisa diduga. Misalnya ketika musim angin barat dan ombak besar, orang bisa memperkirakan bahwa bencana bisa saja terjadi.
Karena itu sudah semestinya pihak keamanan dan angkutan laut membuat peringatan kepada nelayan dan operator kapal untuk tidak berlayar ketika cuaca berbahaya. Demikian juga dengan banjir dan tanah longsor. Sebuah bukit gundul akibat penebangan membabi buta dengan hunian penduduk yang tidak semestinya sesungguhnya dapat menjadi tengara kemungkinan terjadinya banjir dan tanah longsor. Pun orang yang paham sesungguhnya dapat mengemukakan kemungkinan bencana yang dapat menimpa sebuah pesawat udara yang sedang mengarungi angkasa. Karena itu kehati hatian mengoperasikan pesawat dan standar prosedur operasional dan perawatan harus menjadi perhatian sampai sampai para penerbang diperingatkan dengan ungkapan The sky is empty but no room for small error. Dan jika bencana sudah terjadi kitapun sering menganalisa. Dalam beberapa khutbah Jum’at saya mendengar khatib yang menyatakan bahwa bencana itu adalah peringatan Tuhan. Bahkan ada yang menegaskan sebagai wujud kemurkaan Tuhan atas kemungkaran para pemimpin dan yang dipimpin. Barangkali boleh juga dikemukakan, bahwa bencana tidak terjadi begitu saja. Dalam hal bencana alam berupa gempa bumi kalangan ahli tafsir berpendapat bahwa tidak ada sepotong ayat Al Quran yang mengisyaratkan bahwa bumi bergoncang dengan sendirinya. Tetapi bumi diguncangkan. Lantas siapa yang mengguncangkan ? Ahli Tafsir Quraisy Shihab misalnya mengemukakan bahwa dalam sebuah gempa faktual redaksi Al Quran menggunakan kata kami. Dengan demikian, bisa saja benar pendapat yang mengatakan bahwa sebuah bencana terjadi karena ulah manusia sendiri, atau merupakan wujud peringatan Tuhan kepada manusia yang secara nyata tidak bisa memelihara kehidupan dan keseimbangannya. Yang pasti kita mesti bersabar manakala menghadapi bencana sebab bukankah ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Kita berduka atas korban yang meninggal dan luka luka akibat bencana dan berdoa mudah mudahan keluarganya senantiasa sabar menghadapinya. Selamat sore, saya Budi Angkasa..
Filed under: RADIO, SKETSA PRO 3